TAUHID UMMAT (REALITAS-IDEALITAS)

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya:

“Bahwasanya tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”

(Q.S. Al Anbiya: 25)

 

Tauhid (baca: pemurnian aqidah) merupakan ajaran Islam yang paling transenden (pokok). Segala aktifitas kegiatan ummat dalam rangka ibadah atau muamalah ketika tidak dalam kerangka tauhid yang benar maka akan melahirkan ibadah yang sia-sia. Rasulullah diutus sebagai seorang rasul penutup mengemban misi yang sama dengan nabi/rasul yang lain yaitu sebagai pembawa risalah kenabian untuk memurnikan aqidah ummat manusia, yaitu hanya menyembah dan  meminta pertolongan kepada ALLAH RABBUL AALAMIIN.

Ketika para rasul diutus, sejak nabi Adam AS., Nuh AS., Ibrahim AS., Musa AS., dan Rasulullah Muhammad SAW., semua menghadapi persoalan yang sama, yaitu ummat yang mempersekutukan ALLAH SWT. dengan yang lainnya. Nabi Nuh AS. bahkan sampai akhir hayatnya tidak dapat menjadikan putranya beriman kepada Allah swt. Nabi Ibrahim menghadapi persoalan yang sama, ayahnya bahkan seorang pembuat patung berhala. Nabi Muhammad SAW., lahir dan dibesarkan pada lingkungan masyarakat jahiliah yang sangat musyrik. Beberapa berhala yang disembah pada masa itu bernama Latta, Uzza, Manat dan Hubal.

Pemurnian aqidah yang dilakukan adalah dengan meng-Esakan Allah SWT., dalam segala aspek ibadah maupun muamalah. Kalimat LAAILAAHAILLALLAH adalah kalimat agung yang sesungguhnya merupakan syarat mutlak seorang muslim untuk melaksanakan segala aktifitas kehidupan ibadahnya hanya untuk Allah SWT. Firman Allah: “Innii  wanuusuki wamahyaaya mamamaati lillahi robbila’lamiin” Sesungguhnya ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah SWT.

Kemusyrikan ini menjadi sangat penting untuk dikaji dalam memurnikan aqidah karena salah satu dosa besar yang sangat merusak aqidah adalah menjadikan selain Allah SWT., sebagai sesembahan/tandingan atau yang dimintai pertolongan. Dosa syirik adalah dosa yang tidak terampunkan (Qs. An Nisaa 48, 116), sehingga bilamana seseorang mati dalam keadaan syirik kepada Allah SWT., maka amatlah merugi di akhirat kelak..

Persoalan yang terjadi adalah ketika realita dimasyarakat (baca: Ummat Islam}sekarang mengalami krisis aqidah. Praktik kemusyrikan baik yang sangat kentara maupun yang terselubung sangat marak. Sangat sulit membedakan apakah ibadah atau tata cara ibadah yang dilakukan sesuai dengan kaidah tauhid yang benar atau tidak.

Kesyirikan yang terjadi di masyarakat dewasa ini sudah mengarah kepada stadium parah. Ini terjadi karena banyaknya ummat yang masih belum mengerti mana batas syirik atau bukan syirik. Ummat masih sangat yakin apabila sesuatu yang dilakukan masih menggunakan bacaan-bacaan arab, atau huruf-huruf arab maka hal tersebut tidaklah syirik.

Praktik kemusyikan dengan label pengobatan bertebaran di masyarakat. Berkedok ustadz atau kyai yang mampu mengobati atau menyelesaikan urusan tertentu, ummat dibodohi dengan bacaan-bacaan tertentu padahal ditambahi dengan mantra-mantra kesyirikan. Perilaku tersebut merupakan kebohongan yang yang merupakan ciri khas perdukunan (QS. Asyara: 223). Praktik seperti ini bahkan dengan pemberian rajah/jimat/wifik yang diwanti-wanti untuk disimpan dengan hati-hati. Bahkan banyak masyarakat yang lebih hati-hati dalam merawat jimat daripada merawat Kitabullah Al Qur’an.

Di Indonesia, media yang ada dimasyarakat baik cetak maupun elektronik pun banyak menyumbang praktik kesyirikan dan penghancuran tauhid ummat. Media banyak mengekspos hal-hal yang berhubungan dengan mistik/ghoib yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Padahal Islam telah sangat jelas menempatkan hal yang ghaib sesuai ukuran Al Qur’an (QS. Al An’am 59) dan Al Hadist.

Sinetron Misteri Dua Dunia, Rahasia Ilahi, Si Entong, Si Eneng, dan seabrek sinetron di Indonesia sangat erat hubungannya dengan kemusyrikan. Si Entong yang dinyatakan tayangan paling aman, ternyata memiliki sisi keyakinan yang sangat merusak aqidah. Pada film ini, beberapa barang yang dimiliki si Entong serba ajaib, doa yang sekali dilantunkan langsung menghasilkan kemampuan berbicara dengan hewan, padahal kita tahu bawa yang mendapat mukjijat kemampuan tersebut adalah Nabi Sulaiman AS. Orang yang selalu menghilang setelah memberikan barang ajaib kepada si Entong adalah hal yang tidak sesuai dengan sunnatullah (baca: fitrah manusia/alam)

 

PERDUKUNAN (KAHANAH)

Perdukunan baik berlabel dukun hitam atau dukun putih (pakai sorban/peci haji) pada hakikatnya sama. Ketika ummat terjerumus untuk memakai jasa mereka, ummat seakan menganggap bahwa hal ini adalah bukan kesyirikan karena yang membantu adalah ustadz/kyai.

Menurut Ibnu Taimiyah, dukun (kahin) adalah orang yang mengaku dapat menyingkap perkara ghaib, baik masa yang telah lalu maupun masa yang akan datang. Padahal Islam telah menyatakan bahwa keghaiban adalah perkara Allah SWT., yang harus sesuai dengan Al Qur’an dan Al Hadist.  Setiap Informasi keghaiban yang tidak sesuai kedua sumber tersebut tertolak. (QS. Al Hujurat 1)

 

CIRI-CIRI PERDUKUNAN

Pemahaman ummat terhadap ciri-ciri perdukunan harus benar, sehingga ummat tidak kembali terjerumus kedalam praktik perdukunan. Untuk mengetahui bahwa seseorang termasuk dukun adalah dengan mencermati ciri-ciri perdukunan sebagai berikut.

  1. Dukun membutuhkan informasi tentang pasien, biasanya menanyakan nama pasien dan ibu pasien.
  2. Dukun bertanya tentang hari lahir/pasarannya (jawa: weton).
  3. Memberikan mantra/jampi tertentu, atau terkadang menggunakan ayat  Al Qur’an atau doa tertentu untuk diamalkan pada hari, waktu dan jumlah tertentu (secara khusus)
  4. Meminta sesaji apapun bentuknya baik kemenyan, bunga-bungaan, buah-buahan, binatang, telur dan lain sebagainya.
  5. Memberikan jimat/wifiq/rajah/haikal dan tulisan arab, atau memberikan benda yang dianggap pusaka (bertuah), potongan kayu, selembar kain, rajah yang dibungkus yang dimasukkan ke ikat pinggang, dompet, atau untuk  digantung, dikubur di tempat tertentu.
  6. Memberikan informasi ghoib tentang keberadaan mahluk ghaib dengan ciri-cirinya  atau barang yang hilang.
  7. Menunjukkan bahwa ia memiliki kekuatan ghaib bantuan malaikat (khadam), bantuan tenaga dalam, kebatinan, transfer energi positif atau membuang energi negative dsb.
  8. Memberikan informasi keghaiban yang telah, sedang dan akan terjadi, seperti menjelaskan dosa-dosa pasien yang lalu, atau masa lalu pasien, menerangkan isi rumah pasien dan meramal masa depan pasien.
  9. Tathayyur, menghubungkan fenomena alam dengan nasib baik/buruk seseorang, seperti letak rumah/wc dsb.
  10. Menggunakan media manusia atau barang untuk berhubungan dengan mahluk ghaib.
  11. Memberikan amalan bid’ah dengan niat mendekatkan diri pada Allah, atau amalan sunnah dengan tata cara bid’ah, atau amalan syirik yang tidak diketahui pasien.
  12. Menggunakan benda-benda bekas/pusaka dalam ritual yang dilakukan.
  13. Melakukan sihir atas permintaan orang atau menunjukkan kemampuan sihir.
  14. Mencabut sihir dengan menunjukkan benda-benda sihir pasien.
  15. Melakukan pemagaran atau pembentengan ghaib agar tidak ada gangguan dari mahluk ghaib.

Demikian beberapa ciri dari praktik perdukunan. Bilamana ummat menemukan praktik seperti tersebut dengan salah satu ciri yang ada maka perilaku tersebut sudah mulai masuk area kemusyikan.

 

Naudzubillaah summa nauudzubillah.

Wallahu a’lam bisshowab.

Abi Akmal

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: