REMAJA MUSLIM (Akal, Moral dan Spiritual)

REMAJA MUSLIM; antara Akal, Moral dan Spiritual

Menuju Kecerdasan Quantum (Keselarasan IQ, EQ dan SQ)

Oleh; Abi Akmal, S.Pd.

 

“Tiadakah mereka melakukan perjalanan di muka bumi, sehingga mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka merasa,

dan mempunyai telinga yang dengan itu mereka mendengar?

Sungguh, bukanlah matanya yang buta, tetapi yang buta ialah hatinya,

yang ada dalam rongga dadanya”

(Q.S. Al Hajj 22)

Mukaddimah

Perjalanan peradaban dewasa ini menuntut perubahan pola kebiasaan dan pola perilaku. Kecerdasan intelegensi (Intelektual Intelligence) yang sangat didewakan menjelang abad XX mulai menjadi terpinggirkan karena banyaknya kasus yang menunjukkan semakin kurang akurat-nya korelasi (baca: hubungan ) antara kecerdasan otak (IQ/Intelektual Quotient) dengan keberhasilan hidup. Kecerdasan Intelegensi (IQ) yang tinggi tidak serta merta menjadikan seseorang memiliki peluang kehidupan yang lebih tinggi/baik dibandingkan dengan dengan seseorang yang memiliki IQ yang cukup.

Penelitian yang dikembangkan oleh para ilmuwan psikologi, mengejutkan banyak kalangan masyarakat pada akhir abad XX tepatnya tahun 1980-an. Menurut para ahli psikologi, keberhasilan seseorang dalam dunia bisnis, perdagangan, pendidikan  dan industri ternyata tidak serta merta ditentukan oleh IQ yang tinggi (baca: cerdas), tetapi oleh kemampuan untuk mengolah kecerdasan yang lainnya dalam otak (baca: hati) yaitu Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence).

Sejalan dengan perkembangan emotional intelligence yang semakin meningkat, para peneliti barat semakin mampu meningkatkan eksistensi diri dalam dunia industri atau dunia bisnis, namun mereka belum mampu menemukan pola yang membuat kekuatan IQ dan EQ itu menjadikan mereka menemukan kebahagiaan yang hakiki. Hasil yang diperoleh dari perpaduan IQ dan EQ memang menampakkan kemajuan yang sangat berarti, namun kehampaan dan kerinduan terhadap perasaan puas (baca: bahagia)  nampaknya semakin jauh untuk digapai. Akhir dari perjalanan ini, akhirnya bermuara pada adanya sesuatu yang hilang bila hanya IQ dan EQ yang dikedepankan. Mereka mencari yang menyebabkan itu terjadi, dan akhirnya mereka menyimpulkan bahwa kekuatan yang paling hakiki yaitu menomorsatukan jiwa ke-ilahi-anlah (God Spot) dalam setiap aspek tidakan merupakan parade akhir perpaduan IQ dan SQ. Pola pikir inilah yang kemudian melahirkan pola baru yang disebut Kecerdasan Spiritual (Spiritual Intelligence/SQ).

Intelektual Intelligence (IQ)

“All Children are born geniuses” (Buckminster Fuller)

Keajaiban otak manusia

Penelitian mutakhir menunjukkan  bahwa otak manusia terdiri dari bermilyar-milyar sel aktif. Setiap manusia minimal memiliki 100 milyar sel otak aktif sejak lahir. Masing-masing sel dapat membuat jaringan sampai 20.000 sambungan tiap detik. Yang menakjubkan adalah saat awal kehidupan manusia, otak kita berkembang melalui proses belajar-alamiah-dengan kecepatan 3 milyar sambungan per detik. Gordon Dryden menyatakan, “ You’re the owner of the world’s most powerful computer” (anda adalah pemilik computer paling hebat di dunia-otak anda). Menurut Tony Buzan  menyatakan bahwa kemampuan memori otak kita adalah 10800 sedangkan jumlah atom di alam semesta sekitar 10100.

Menurut Robert Stenberg seorang ahli “Succesful Intelligence” menyatakan bahwa paham yang menyatakan IQ merupakan tolok ukur keberhasilan sudah harus ditinggalkan. Menurutnya “bila IQ yang berkuasa, ini karena kita membiarkannya berbuat demikian, dan bila kita membiarkannya berkuasa, kita telah memilih penguasa yang buruk”. Sebaliknya, proses pendidikan sekarang ini, khususnya di Indonesia masih mengacu pada penilain akademik atau kecerdasan otak saja. Mulai dari tingkat Sekolah dasar hingga perguruan tinggi jarang sekali ditemukan pola pendidikan mengenai kecerdasan emosi (EQ) misalnya integritas/kepribadian, kejujuran, komitmen, visi, kreatifitas, ketahanan mental, kebijaksanaan mental, keadilan, prinsip kepercayaan penguasaan diri (sinergi) dsb.

Berdasarkan salah satu survey di Amerika, menemukan bahwa anak-anak sekarang tumbuh dengan IQ yang semakin tinggi, tetapi mereka memiliki tingkat kecerdasan emosi yang semakin menurun. Anak-anak generasi sekarang lebih sering mengalami masalah emosi dibanding generasi sebelumnya. Anak-anak sekarang tumbuh dalam kesepian dan depresi, lebih mudah marah, lebih sulit di atur dan lebih mudah gugup dan cemas, cenderung impulsive dan agresif.

 

Emotional Intelligence (EQ)

Menurut Goleman bahwa kecerdasan emosi merupakan kemampuan untuk mengenali perasaan kita  sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan orang lain serta kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.

Menurut Robert K. Cooper, Ph. D., kecerdasan emosi bersumber pada hati manusia. Ia menyatakan bahwa “ hati mengaktifkan nilai-nilai kita yang paling dalam, mengubahnya dari sesuatu yang kita pikir menjadi sesuatu yang kita jalani. Hati tahu hal-hal yang tidak diketahui oleh otak/pikiran. Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas dan komitmen. Hati adalah sumber energi dan perasaan mendalam  yang menuntut kita belajar, menciptakan kerjasama, memimpin dan melayani.”

 

Spiritual Intelligence (SQ)

Spiritual Intelligence (kecerdasan spiritual/SQ) tumbuh mula-mula dari pemikiran barat yang menyatakan bahwa ada –faktor alam bawah sadar (jiwa Tuhan)- yang dapat menuntun manusia menemukan kebermaknaan hidup. Penulis barat tidak dapat lebih berani menyatakan bahwa kecerdasan spiritual dimaknai sebagai “hati nurani” yang dalam bahasa seorang muslim adalah Iman.

Hati nurani akan menjadi pembimbing terhadap apa yang harus ditempuh dan apa yang harus diperbuat. Artinya bahwa Tuhan (baca: Allah) telah menciptakan radar pembimbing bagi manusia yaitu hati.

Kesimpulan

Penggabungan pola IQ, EQ dan SQ yang serasi dan sejalan dalam aplikasinya akan melahirkan manusia yang utuh yaitu yang mampu menyelesaikan masalah-masalah hidupnya dengan pola pendekatan ke-Ilahi-an (God Spot). Penggabungan dari ketiga kecerdasan yang sejati-nya dimiliki setiap manusia ini akan melahirkan kecerdasan yang menyeluruh atau sering disebut Kecerdasan Quantum (Quantum Intellegence).

Wallohu A’lam Bisshowab.                                                                     Disarikan dari berbagai sumber.

Penulis adalah staf pengajar di SMA Purnama Majenang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: