BANGKIT MENUJU KEMULIAAN UMMAT ISLAM

Insya Allah, masa depan yang gemilang itu,

kejayaan yang pernah hilang di tangan kita,

akan dapat kita kembalikan lagi.

Dan saya berharap,

Indonesia akan menjadi pemimpin kebangkitan ini,

(DR. Yusuf  Al Qaradlawy,  15 Oktober 1999)

 

Iftitah

Kebangkitan Islam adalah suatu keharusan. Negeri ini berdiri kokoh dan merdeka merupakan sumbangan besar ummat ini dengan perjuangan yang berdarah-darah. Tahun 1905 dengan berdirinya SDI-SI (Serikat Dagang Islam) merupakan bangkitnya Nasionalisme ke-Indonesiaan pertama. SDI-SI adalah titik tolak organinsasi pergerakan nasional. Timur Jaylani dalam “ The Sarekat Islam Movement: Its contribution to Indonesian nationalism” mencatat bahwa pergerakan SDI-SI merupakan bentuk perlawanan secara tidak langsung ditujukan kepada Belanda. Anggaran dasar pergerakan ini dengan jelas menyebutkan meningkatkan persaudaraan, tolong menolong, meningkatkan derajat kemakmuran dan  kebebasan negeri (baca; merdeka)

Muhammad  Natsir dalam “Indoensisch Nationalism” menyatakan bahwa pergerakan islamlah yang pertama meretas jalan di negeri ini bagi kegiatan politik yang mencita-citakan kemerdekaan, yang telah menebarkan benih kesatuan Indonesia, yang telah mengubah wajah-wajah isolasi pelbagai pulau dan juga roman muka provinsialis. Gerakan islam pulalah yang pertama menanamkan benih persaudaraan dengan orang seiman sekeyakinan dengan orang-orang seiman sekeyakinan diluar batas-batas Indonesia. (Sabili, Juli 2004)

Perjalanan kemerdekaan bangsa ini dari semenjak masa pemerintahan Orde Lama, Orde Baru dan Era Reformasi sekarang, belum mampu menjadikan rakyat secara umum merasakan kemerdekaan sesungguhnya (kemakmuran). Tingkat kemiskinan dan pengangguran yang tinggi, bibit perpecahan antar wilayah yang makin meluas menuntut pemerintah dan rakyat harus bersatu untuk memecahkan masalah tersebut. Kebangkitan (hijrah maknawi) menjadi “tema sentral” untuk menggugah semua elemen bangsa untuk bangkit dari keterpurukan moral, ekonomi, kepemimpinan dan kepercayaan.

Indonesia, harapan itu masih ada……

Indonesia Bangkit.

Fenomena kebangkitan Indonesia yang terwakili dengan kebangkitan ummat islam dalam berbagai hal dapat kita saksikan. Perbankan syariah sejak berdirinya Bank Muamalat Indonesia (1992) semakin menjamur, Baitul Mal wa Tamwil (BMT) Syariah bertebaran, Peraturan Daerah (Perda) Syariat di berbagai kabupaten sudah mulai bermunculan. Andi Patabai Pobokari (Bupati Bulukumba: 1995-2005) membukukan sejarah dengan memunculkan Perda bernuansa syariat yang menghasilkan angka penurunan kriminalitas sebesar 85%. (Suara Hidyatullah, Edisi Khusus, 2008). Fenomena tersebut menandakan bahwa ummat Islam sudah mulai bangkit untuk memberdayakan bangsa dengan tujuan memakmurkan dan memuliakan bangsa dihadapan bangsa-bangsa di dunia.

Syekh Yusuf Qardlawy mengemukakan beberapa syarat agar kebangkitan Islam dan kemuliaan ummat dapat diraih. Yang pertama adalah hendaknya kita bangga dengan Islam. Kita semua harus merasa bahwa segala yang membuat kita bangga, segala yang membuat kita percaya diri, yang membuat kita berani menghadapi persoalan adalah islam. Islam dijadikan sebagai pemberi spirit kekuatan jiwa untuk melawan problematika ummat. Kedua, jadikan orang lain melihat Islam sesuai cara berpikir orang islam. Islam adalah Rahmatan lil aalamiin, maka ketika peradapan islam (kebangkitan) diterapkan, maka ummat diluar islam merasa terlindungi dan hak-haknya tetap terakomodasi. Jadikan orang lain melihat kita seperti melihat Al Quran atau Sunnah yang berjalan. Ketiga, bersatunya ummat dalam ukhuwah merupakan kunci keberhasilan. Perpecahan ummat adalah pintu kehancuran bangsa. Keempat adalah kemampuan bangsa ini memilih pemimpin. Pemimpin yang memiliki sikap demokratis, sehingga memeberikan peluang kepada setiap orang untuk berpartisipasi secara positif, mengekspresikan  semua potensi untuk kemajuan bangsa.

Ust. Anis Matta dalam salah satu taujihnya mengemukakan keberhasilan kebangkitan Islam harus dilakukan melalui 3 tahapan.

  1. Ummat harus melakukan tahap afiliasi. Afiliasi ini dimaksudkan agar ummat ini membangun kembali afiliasi  kita kepada islam, supaya proses ber-islam kita itu adalah ber-islam yang berbasis ilmiah, lahir dari kesadaran karena kita menganggap islam adalah pilihan hidup, sehingga afiliasi kita kepada islam adalah kesadaran intrinsic, tidak semata emosional.
  2. Tahap berikutnya adalah tahap partisipasi. Menjadikan ummat sebagai bagian dari kelompok jamaah, kelompok dakwah, atau kelompok yang lebih besar lagi yaitu bangsa Indonesia. Pada tahap ini ummat bergerak untuk memaksimalkan potensi yang dimilikinya untuk memajukan bangsa ini. Semua elemen masuk dalam organisasi dari yang terkecil sampai yang besar dan menjadikan semua potensi dan kemampuannya untuk kemuliaan ummat.
  3. Tahap berikutnya adalah tahap kontribusi. Tahap ini mensyaratkan penyerahan semua potensi dan kemampuan yang dimiliki untuk bekerja dalam jamaah ummat. Niat aktifitas ini kembalikan semuanya kepada ridha Allah, maka Allah akan memberikan keputusan-Nya dengan berbagai aktifitas yang telah dilakukan, insya Allah. (Geliat Dakwah di Era Baru, Maret 2001)

Penutup

Akhirnya, Kemuliaan islam tidak akan tegak jika ummat Islam hanya berpangku tangan,  melihat dari jauh dan hanya jadi penonton. Ummat harus menjadi subyek pelaku, dan bukan obyek. Bersama kita bisa, bangkitlah Islamku, bangkitlah bangsaku, bangkitlah Indonesiaku, raih kemuliaanmu.

Oleh: Ujang Utomo, S.Pd.

SMAN I Cipari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: