THE MIRACLE OF SEDEKAH

The Miracle Of “Sedekah”

12 Ramadhan 1429 H

 

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian

kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata:

“Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”

(Al Munaafiquun: 10)

 

 

 

Mukaddimah

“Sedekah” atau “Shadaqah” merupakan salah satu pilar dalam kehidupan bermasyarakat Islam. Islam memerintahkan kepada ummat-Nya untuk melaksanakan beberapa kewajiban sehubungan dengan “kepemilikan” harta. Zakat, infak dan shadaqah/sedekah merupakan rangkaian perintah dan anjuran yang kedudukannya sangat penting. Beberapa ayat dalam Al Qur’an menunjukkan bahwa menginfakkan sebagian harta yang dimiliki harus dilakukan setelah perintah mendirikan shalat. ( Al Anfal: 3)

 

Makna Shadaqah

Secara umum shadaqah mengandung makna menginfakkan harta di jalan Allah swt.. baik ditujukan kepada fakir miskin, kerabat keluarga, maupun untuk kepentingan jihad fi sabilillah. Makna shadaqah memang sering menunjukkan makna memberikan harta untuk hal tertentu di jalan Allah swt., sebagaimana yang terdapat dalam banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an (Al-Baqarah : 264 dan Al-Hadiid: 7).

Secara bahasa, shadaqah berasal dari kata shidq yang berarti benar. Menurut  Al-Qadhi Abu Bakar bin Arabi, benar di sini adalah benar dalam hubungan dengan sejalannya perbuatan dan ucapan serta keyakinan. Hadits nabi menyebutkan: “Dan shadaqah itu merupakan burhan (bukti).” (HR. Muslim)

Antara zakat, infak, dan shadaqah memiliki pengertian tersendiri dalam bahasan kitab-kitab fiqh. Zakat yaitu kewajiban atas sejumlah harta tertentu dalam waktu tertentu dan untuk kelompok tertentu. Infak memiliki arti lebih luas dari zakat, yaitu mengeluarkan atau menafkahkan uang. Infak ada yang wajib, sunnah dan mubah. Infak wajib di antaranya adalah zakat, kafarat, infak untuk keluarga dan sebagainya. Infak sunnah adalah infak yang sangat dianjurkan untuk melaksanakannya namun tidak menjadi kewajiban, seperti infak untuk dakwah, pembangunan masjid dan sebagainya. Sedangkan infak mubah adalah infak yang tidak masuk dalam kategori wajib dan sunnah, serta tidak ada anjuran secara tekstual ayat maupun hadits, diantaranya seperti infak untuk mengajak makan-makan dan sebagainya.

Shadaqah lebih luas dari sekedar zakat maupun infak. Karena shadaqah tidak hanya berarti mengeluarkan atau mendermakan harta saja namun shadaqah mencakup segala amal atau perbuatan baik. Dalam sebuah hadits dinyatakan “Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Setiap anggota badan manusia berkewajiban membayar sedekah. Selagi matahari masih terbit, maka sedekah harus dilaksanakan setiap hari. Mendamaikan orang yang berselisih adalah sedekah, mengajak orang lain naik kendaraan bersama-sama atau menaikkan barang bawaannya ke atas ken­daraan adalah sedekah, dan menyingkirkan kotoran yang mengganggu di jalan adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist lain menyebutkan bahwa, “Dari Abu Dzar r.a. berkata, bahwasanya sahabat-sahabat Rasulullah saw. berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah saw., orang-orang kaya telah pergi membawa banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.” Rasulullah saw. bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan untukmu sesuatu yang dapat disedekahkan? Yaitu, setiap kali tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh pada kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan hubungan intim kalian (dengan isteri) adalah sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya dan dia mendapatkan pahala?” Rasulullah saw. menjawab, “Bagaimana pendapat kalian jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, apakah ia berdosa? Demikian juga jika melampiaskannya pada yang halal, maka ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

Makna shadaqah yang terdapat dalam hadits di atas adalah mengacu pada makna shadaqah di atas. Bahkan secara tersirat shadaqah yang dimaksudkan dalam hadits adalah segala macam bentuk kebaikan yang dilakukan oleh setiap muslim dalam rangka mencari keridhaan Allah swt. Baik dalam bentuk ibadah atau perbuatan yang secara lahiriyah terlihat sebagai bentuk taqarrub kepada Allah swt., maupun dalam bentuk aktivitas yang secara lahiriyah tidak tampak seperti bertaqarrub kepada Allah, seperti hubungan intim suami istri, bekerja, dsb. Semua aktivitas ini bernilai ibadah di sisi Allah swt.

Macam-Macam Shadaqah

Rasulullah saw. menjelaskan tentang cakupan shadaqah yang begitu luas, diantaranya sebagai berikut:

  1. Shadaqah berupa harta/benda (Ar Ra’du: 22)
  2. Tasbih, Tahlil dan Tahmid

Dari Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw. berkata, “Bahwasanya diciptakan dari setiap anak cucu Adam tiga ratus enam puluh persendian. Maka barang siapa yang bertakbir, bertahmid, bertasbih, beristighfar, menyingkirkan batu, duri atau tulang dari jalan, amar ma’ruf nahi mungkar, maka akan dihitung sejumlah tiga ratus enam puluh persendian. Dan ia sedang berjalan pada hari itu, sedangkan ia dibebaskan dirinya dari api neraka.” (HR. Muslim)

  1. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Sahabat Abi Darda’ ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Adakah kamu bersedia menerima sekiranya aku mengkhabarkan kepadamu perihal derajat tertinggi dari puasa, shalat dan sedekah?” Jawab para sahabat: “Ya, kami bersedia menerimanya.” Kemudian Rasulullah bersabda: ‘Mendamaikan orang yang berselisih termasuk keutamaan. Sebab perselisihan dua orang yang berselisih ini bisa merusak agama.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi

  1. Hubungan Intim Suami Istri
  2. Bekerja dan memberi nafkah pada sanak keluarganya

Dari Al-Miqdan bin Ma’dikarib Al-Zubaidi ra, dari Rasulullah saw. berkata, “Tidaklah ada satu pekerjaan yang paling mulia yang dilakukan oleh seseorang daripada pekerjaan yang dilakukan dari tangannya sendiri. Dan tidaklah seseorang menafkahkan hartanya terhadap diri, keluarga, anak dan pembantunya melainkan akan menjadi shadaqah.” (HR. Ibnu Majah)

  1. Membantu urusan orang lain
  2. Mengishlah dua orang yang berselisih
  3. Menjenguk orang sakit
  4. Berwajah manis atau memberikan senyuman

Dari Abu Dzar r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian menganggap remeh satu kebaikan pun. Jika ia tidak mendapatkannya, maka hendaklah ia ketika menemui saudaranya, ia menemuinya dengan wajah ramah, dan jika engkau membeli daging, atau memasak dengan periuk/kuali, maka perbanyaklah kuahnya dan berikanlah pada tetanggamu dari padanya.” (HR. Turmudzi)

Syarat Shadaqah

  1. Dilakukan dengan ikhlas (tidak menyebut-nyebut shadaqah yang diberikan) dengan tetap hanya mengharap ridha Allah(Al Baqarah: 262, 272)
  2. Diberikan kepada orang yang berhak (orang tua, kerabat, anak yaatim, orang miskin, orang yang dalam musafir, dsb) (Al Baqarah: 215)
  3. Dilakukan pada saat lapang ataupun sempit (setiap saat).

 

Balasan Shadaqah

Shadaqah merupakan amalan yang menunjukkan bukti keimanan seseorang. Berikut beberapa balasan yang Allah janjikan kepada orang-orang yang gemar melakukan shadaqah.

  1. Allah mengganti shadaqah dengan penggantian yang lebih banyak kelipatannya (Al Baqarah: 261, Saba: 39))
  2. Memperoleh pahala yang besar dari Allah, hidup tenteram dengan tidak khawatir dan tidak bersedih (Al Hadiid; 7, At Taubah; 103) dan Al Baqarah: 262)
  3. Termasuk golongan orang-orang yang shalih (Al Munafikuun: 10)
  4. Melapangkan rezeki (memudahkan) (Al Baqarah: 245)
  5. Mendapat tempat yang baik di Akhirat (Ar Ra’du: 22)
  6. Mendapatkan doa dari para malaikat (H.R. Bukhari Muslim)
  7. Termasuk 7 golongan orang yang mendapat perlindungan dari Allah pada hari kiamat (H.R. Bukhari Muslim)
  8. Menghapus dosa (H.R. Turmudzi)

 

Penutup

Sedekah/shadaqah memiliki jenis instrumen yang sangat beragam. Semua aktifitas kehidupan ummat selama dilaksanakan dalam rangka melaksanakan ketaatan seorang hamba kepada Rabb-nya merupakan sedekah.

Sejarah mencatat bahwa Rasulullah dan para sahabat adalah para pencinta sedekah. Banyak tarikh yang menceritakan kedermawanan Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Talhah, Abdurrahman bin Auf, dan sahabat-sahabat lainnya.

Sedekah banyak mendatangkan keajaiban-keajaiban penggantian dari Allah, baik langsung maupun tidak langsung.

Subhaanaka allahumma wabihamdika asyhaduan laailaahaillaa anta astaghfiruka waatuubu ilaika

 

Wallahu’alam Bisshawab

Dari berbagai sumber

Ujang Utomo, S.Pd.

SMAN I Cipari

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: